Minggu, 30 Juli 2017

Jangan Sampai Kehilangan Gairah

Gantungkanlah Cita-Citamu Setinggi Langit - Anonym
Bermimpilah Setinggi Langit, Jika Engkau Jatuh Kau Akan Jatuh Diantara Bintang-Bintang - Ir. Soekarno

Kalimat-kalimat itu adalah salah dua dari jutaan kalimat tentang cita-cita dan impian. Sewaktu kita kecil dulu banyak yang bertanya pada kita tentang apa cita-cita kita. Setelah dewasa kita ditanya tentang impian kita.

Setiap ditanya tentang cita-cita maka sebagian besar dari kita akan menjawab dengan berbagai macam profesi mulai dari dokter, tentara, polisi dan lain sebagainya. Entah darimana awalnya cita-cita itu isinya bisa profesi. Mungkin karena sewaktu kecil hal tersebut dibuat menjadi sederhana oleh orangtua agar kita memiliki tujuan hidup. Tujuan belajar dan semangat menuntut ilmu.



Secara pribadi, dulu sewaktu kecil ketika saya ditanya cita-cita saya apa, saya akan menjawab menjadi tentara. Bangga rasanya bisa memakai seragam loreng, muka dicoreng-coreng dan merangkak membawa senjata. Apalag beraksi di daerah yang banyak ranjau. Seperti menjadi superhero saja. Namun cita-cita bertahan sampai kelas 4 SD saja. Karena mata saya mulai rabun yang belakangan saya tahu bahwa mata rabun tidak akan diterima jadi tentara. Lalu saya merubah haluan bercita-cita ingin menjadi dokter. Haha

Namun hal tersebut pun berubah kembali setelah saya lulus SMP saya tahu bahwa ekonomi keluarga saya tidak memungkinkan saya untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Singkat cerita saya masuk di SMK otomotif dan benar saja cita-cita saya tercapai untuk menjadi dokter tercapai. Tapi pasien saya adalah kendaraan.

Namun sebenarnya bukan hal itu yang ingin saya tuliskan. Saya ingin membahas tentang cita-cita dan impian. Dalam kamus besar bahasa indonesia cita-cita diartikan sebagai keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran. Sedangkan impian adalah rasa yang mengharapkan dengan sangat. Mengidam-idamkan.

Saya terusik dengan kedua hal tersebut. Entah saya sadar atau tidak tapi saat dewasa saya tidak menggunakan kata cita-cita dalam setiap "tujuan" saya. Namun dengan kata impian. Setelah membaca arti dari kamus bahasa indonesia tersebut saya jadi mengartikannya secara 'liar' bahwa cita-cita itu hanya ada di kepala sedangkan impian itu ada 'pengharapan' terhadap sesuatu. Yang namanya harapan bukan bisa jadi letaknya da dikepala. Namun lokasi sebenarnya ada di hati. Jiwa. Yang akan tercermin pada tingkah laku sehari-hari.

Harapan itulah yang telah membuat diri setiap manusia menjadi berambisi, bernafsu dan bergairah saat menjalani kehidupan. Dan ketika seseorang kehilangan impiannya maka dia akan kehilangan ambisi hidupnya. Ini sangat berbahaya bagi kita semua. Kehilangan ambisi tidak hanya menjadikan kita tidak jelas arah, namun akan membuat kita menjadi frustasi sampai kehilangan kepercayaan diri dan semangat juang.

Bagi para pekerja, hal tersebut akan membuatnya menjadi kosong dan hanya menjalani rutinitas saja. Bagi para pebisnis dia tidak tahu apakah bisnisnya sehat atau tidak. Bagi pengusaha pemula mereka akan kehilangan arah. Menyimpan terlalu banyak ilmu namun tidak pernah dipraktekkan atau banyak sekali ikut pelatihan, workshop atau seminar namun tetap saja kosong. Tidak bersemangat.

Namun itu semua akan mengusik jiwa kita, jiwa mereka yang tadinya kosong. Karena secara naluriah setiap jiwa itu berisi gejolak. Tidak pernah merasa puas. Ketika perasaan tersebut mulai mengusik maka dari hal tersebut akan muncul kembali harapan, membentuk kembali impian dan hal tersebut semua akan terpancar kembali pada perbuatan sehari-hari.

Hari-hari akan lebih berwarna. Para pekerja akan bekerja sungguh-sungguh dan terampil. Para pebisnis tahu apa yang ingin mereka capai. Tidak lagi menyerap ilmu secara sembarangan. Mereka akan tahu apa yang diperlukan dan apa yang membuang-buang waktu. Jiwanya terisi kembali dengan harapan. Terus seperti itu sampai ia mendapatkan impiannya terwujud satu-persatu. Yang tadinya terasa tidak mungkin ternyata jadi kenyataan.

Saat ini mungkin banyak diantara kita, yang membaca tulisan ini atau bahkan saya sendiri kehilangan gairah. Cobalah merenung. Tanyakan pada diri apa sebenarnya impian kita, tujuan kita. Lalu pastikan bahwa itu adalah benar-benar impian kita. Setelah itu perlahan-lahan tanamkan dalam jiwa, harapkan terus-menerus sampai benar-benar tergambar dalam sikap kita sehari-hari. Dan pada akhirnya semua akan terwujud karena Tuhan berkenan untuk mewujudkannya.

Di Medan Tempur, Waktu Ba'da Isya, Hamba Yang Kehilangan Gairah