Senin, 31 Juli 2017

Ceritakan Impianmu atau Diam


Sewaktu saya awal memutuskan untuk membuka Toko Online Lubaid Distro, impian saya hanya satu. Menambah penghasilan saya. Lalu saya baca-baca beberapa buku, ikut pelatihan-pelatihan online, komunitas-komunitas pengusaha dan lain-lain yang bisa membantu saya untuk meningkatkan kompetensi dan kemampuan saya dalam berbisnis.

Setiap saya mengikuti pelatihan-pelatihan bisnis hal yang biasanya ditanyakan adalah apa impian saya. Apa impian kita. Maka ketika ditanya seperti itu saya akan menceritakan, menjelaskan dengan semangat apa impian saya. Lalu diminta menuliskan impian lalu upload ke sosial media. Namun tahun lalu saya dapat ilmu baru tentang impian setelah mengikuti Kickstart-nya Mas Fikry. Dari hal tersebut saya mengelompokkan orang-orang sesuai metode ini dalam 2 kelompok.

Pertama, orang yang memvisualisasikan impiannya.


Mereka adalah tipe orang yang semangat sekali jika berbicara tentang impiannya. Memvisualisasikannya pun beragam. Mulai dari menuliskannya dibuku catatan atau diary. Menempelkannya di dinding atau tempat yang mudah dilihat. Sampai menceritakan impiannya dalam setiap kesempatan.

Mereka percaya bahwa setiap ucapan adalah doa. Jadi jika kita memiliki impian bisa juga dengan menceritakannya kepada orang lain yang dimaksudkan hal itu agar alam membantu kita atas perintah Tuhan sebab 'doa' yang sudah kita ucapkan terus-menerus sehingga impian kita akan terwujud.

Kita bisa lihat seperti Ustadz Yusuf Mansur yang seringkali bercerita tentang impiannya, apa yang ingin beliau capai terhadap dunia dan akhiratnya. Kita lihat apa yang beliau sampaikan semuanya tercapai satu-satu. Alhamdulillah.

Lalu yang kedua, orang yang HARAM menceritakan impiannya.

Menurut Derek Sivers bahwa jika kita memiliki impian janganlah kita ceritakan pada siapapun. Karena dengan begitu kita akan merasa bahwa kita satu langkah lebih mendekati impian kita. Untuk lebih jelasnya teman-teman bisa lihat videonya disini.

Namun dari kedua hal tersebut saya menyimpulkan bahwa apapun yang kamu pilih, menceritakan impianmu atau diam adalah bentuk dari sikapmu terhadap impianmu. Intinya bukan pada cerita atau diamnya tapi pada apa yang akan kita lakukan terhadap impian tersebut. Mewujudkannya atau hanya didiamkan dalam kepala atau malah hanya jadi hiasan saja di dinding.

Karena Allah berfirman dalam Quran surat Ar-Ra'du ayat 11 :


إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Artinya : "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

Mengubah keadaan yang ada pada diri kita sendiri itu tidak hanya dengan ucapan atau hanya angan-angan saja. Tapi tunjukkan dalam perbuatan agar kita bisa memperlihatkan usaha kita, kerja keras kita pada Allah. Sehingga Allah berkenan untuk mengubah keadaan kita.

Jadi apapun yang kamu kerjakan terhadap impianmu, mencatatnya atau menempelkannya di dinding lalu menceritakannya setiap saat sebagai doa. Atau kita memilih untuk diam seperti yang Derek Sivers katakan. Itu semua bukan intinya. Tapi setelah itu maukah kita bekerja untuk mewujudkannya, itu yang terpenting.
Di Pembaringan, Ba'da Ashar, Syaiful Bahri - Owner Lubaid Distro dan iTravelMu