Jumat, 07 Oktober 2016

Berbicaralah Yang Baik atau Diam!

Bismillahirrohmanirrohim...




مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت 
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaqun Alaih)

Salam saudaraku!

Hidupku dan hidupmu hari ini, puji syukur, masih dalam lindungan Allah Rabbul 'Alamin. Lebih bersyukur lagi, kita masih diberikan nikmat berbicara, berpendapat, melihat juga merasa.


Saya sudah lama sekali tidak menulis (padahal ini mengetik loh!). Saking lamanya tulisan saya sampe jelek! Hehehe. Saat ini saya tertarik sekali untuk menulis, karena saya sudah lama memperhatikan kejadian-kejadian dan lika-liku kehidupan baik nyata maupun maya yang sudah banyak sikut-sikutan, gesekan-gesekan yang dirasakan oleh kita semua tentang Indonesia belakangan ini.

Apalagi mendekati Pilkada serentak yang akan diadakan di Indonesia. Saya melihat terutama di Jakarta, 'serangan' yang dilancarkan dari pihak-pihak calon gubernur yang ditujukan ke lawannya. Saya muak sekali sebetulnya membaca di timeline facebook isinya hanya menjelek-jelekkan saja. Saya sempat terbawa arus karena hal itu. Saya ikut berkomentar negatif. Semoga Allah mengampuni saya.

Dalam hal ini saya ingin mengingatkan diri saya juga kepada teman-teman baik, sahabat-sahabat saya juga semua pembaca pada umumnya bahwa ada pesan dari Rasulullah yang sudah kita lupakan, yaitu pesan kepada orang yang beriman pada Allah dan hari akhiur tentang perkataan yang baik. Hadits itu sudah saya tuliskan di awal tulisan ini.

Kenapa Rasulullah sampai mengatakan hal itu? Kenapa Rasulullah sampai menyebutkan “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir"? Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”



Namun zaman ini, perkataan itu bukan hanya yang kita 'ucap' namun juga termasuk pemikiran-pemikiran yang kita tulis baik melalui blog, facebook, twitter juga social media lainnya atau media elektronik lainnya. Kita selalu (saya menyebut kita karena saya pun demikian) tidak berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara (baik lisan ataupun tulisan di social media) apakah itu akan menyakiti seseorang atau tidak. Bahkan kita ini tidak peduli.

Ya Allah betapa rusaknya akhlakku!

Kita, dalam hal ini, dengan mudahnya mendapati keburukan orang lain. Sedangkan kita lupa akan 'pakaian' kita sendiri, apakah layak kita kenakan atau tidak. Kita selalu dengan entengnya mengumbar aib-aib orang lain, tapi kita lupa bahwa jika pun kita sendiri, kita selalu bermaksiat.

Oh Wahai Allah. Rasul sudah mengingatkan kami untuk tidak mengumbar aib saudara kami. Tapi kami tidak menghiraukannya.
لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim)
مَنْ سَتَرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فِي الدُّنْيَا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa menutupi (aib) saudaranya sesama muslim di dunia, Allah menutupi (aib) nya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Sebaliknya, siapa yang mengumbar aib saudaranya, Allah akan membuka aibnya hingga aib rumah tangganya.


مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ كَشَفَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى يَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ
“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Majah)

Allah! Allah! Allah! Ampuni kelalaian kami.

Saudaraku, inginkah kita seperti itu? Mengabaikan perintah Rasul? Tidak ingin kah kita mengikutinya? Sudah lah, sudah. Cukupkan sampai disini. Jika kita melihat keburukan haruskah kita mengumbarnya? Dengan mengumbarnya apakah akan membuat kita menjadi baik? suci?

Allah Yarham...
Saudara, maafkan jika saya ini sok tau. Saya hanya ingin kita saling mengingatkan, bukankah itu fungsinya kita bersaudara? Fungsinya kita berbangsa? Yaitu saling mengingatkan dalam kebaikan?

Saya ingin melihatmu bercanda, tertawa, bukan pencari kesalahan, pembenci dan lain sebagainya. Saya ingin kita terus bercanda, di dunia nyata ataupun maya. Saat kita sedang bersama atau saat kita sedang tidak duduk ngopi di satu meja. Saya hanya ingin hidup tanpa pertanyaan "kau dukung siapa?" Aku hanya ingin itu. Maukah kamu mengabulkannya? Yuk! Kita berjabat tangan!

Di medan pertempuran
Waktu Tahajjud - Saif ibn Butabi