Jumat, 24 Juli 2015

Cinta dan Perasaan Yang Menemaninya

Bismillahirrohmanirrohim...


Ahh.. Selalu kau membuat aku merindu, Wahai...
Lelakumu tidak bisa diprediksi. Benar, bahwa wanita adalah makhluk yang paling tidak bisa diprediksi. Entah hal yang sudah, sedang atau akan dikerjakan. Bahkan hal-hal yang masih dalam pikiran, yang sudah diucapkan dan lain-lain itu tidak bisa diprediksi dari wanita. Dan aku sudah membuktikannya.

Tapi hal-hal seperti itu yang membuat aku menjadi kadang membara, kadang cemburu, kadang gelisah, khawatir dan lain-lain. Kau mampu memainkan perasaanku sehingga aku makin mencintaimu. :*

Dalam hal ini aku memang sangat sangat membosankan. Aku mengaku cinta tapi aku tidak mampu membuat mu merasakan hal-hal yang indah, lucu dan menggemaskan. Meski aku sudah cari cara, lakukan yang terbaik. Tetap saja kau yang selalu menjadikan hubungan ini menjadi lebih bergairah karena lelakumu.

Oh Wahai...
Kudengar bahwa wanita itu adalah 'wajah' Tuhan di dunia. Aku tahu, bahwa Tuhan tidak bisa disamakan dengan makhluknya tapi bukan hal itu yang ingin aku jelaskan. Dari kalimat tersebut aku dapat simpulkan bahwa wanita lah yang menjadikan kaum lelaki semakin mencintai Tuhan. Ya, dengan lelaku yang kamu perankan dalam #akting harianmu.

Kau sadar akan hal itu kan, Wahai? Bahwa hidup ini hanya sekedar #akting yang kita mainkan dari skenario semesta. Seperti yang aku alami hari ini. Aku mendapatkan dirimu tiba-tiba berkata padaku bahwa kau tidak yakin akan diriku. Ohhh... Padahal sudah sering aku mendengar hal itu dari mulutmu bahwa kau belum mencintaiku, bahwa kau tidak yakin akan hubungan ini. Tapi entah kenapa hari ini aku syok. Ahhh.. lagi-lagi aku kalah dalam menahan perasaan.


Ketika aku hampir pingsan karena hal itu, Tuhan memberikanku 'ilham' melalui kalam-Nya yang ada didekatku. Dibuatnya 'kuda besi' ku ngambek tidak mau jalan ketika aku akan mengajaknya pergi. Padahal baru kemarin dia aku ajak menicure-pedicure ala kuda besi di salah satu pendopo. Ehh lah kok paginya dia ngambek lagi?

Berjam-jam aku merenung dibawah matahari sambil memandangi laut di marunda, tempat Rahwana sering mengajak Sinta bercengkerama ketika merasa bosan berada di istana sepanjang hari. Aku bertanya pada Tuhan dalam diriku, apa yang hendak disampaikannya atas kejadian hari ini. Dan aku menemukan jawabannya, Wahai... Maukah kau membaca surat ini sampai habis? Aku ingin menceritakan hal ini padamu.

Begini isyarat dari Tuhan...
Bahwa cintaku kepadamu ini seperti cintaku terhadap 'kuda besi' ku. Aku mencintainya, meski ia tidak membalas dengan mengatakan I Love You Too. Aku diberi kekuatan untuk menjinakkannya sebagai kendaraanku. Aku ajak dia kemanapun aku pergi. Dia tahu apa saja yang aku lakukan sehari-hari. Dia juga yang menemaniku dengan tulus, meski dia tidak mengatakan bahwa dia tulus menemaniku dan bahagia selalu berada denganku.

Tapi suatu kali, dia akan sakit, lelah, rusak, tidak mau jalan dan lain-lain dan lain-lain. Lalu apakah itu karena dia tidak mau lagi bersamaku? Karena dia ingin aku mencari 'kuda besi' lain? Ternyata tidak, Wahai...

Ketika dia mengalami hal-hal yang sangat menyusahkanku, dia hanya ingin aku tetap menuntunnya, ingin melihat kecintaanku padanya disaat dia berada dalam kesulitan. Dia ingin aku menuntunnya meski peluh membasahi kening sampai mata kaki ku. Dan membawanya pada tempat yang tepat.

Oh Wahai...
Aku menitikkan airmata. Betapa bodohnya aku yang tidak bisa menangkap maksud dari lelakumu. Aku sadar bahwa kau adalah orang yang aku cinta dan aku tidak perlu menanti jawaban cinta juga darimu agar aku tetap mencintaimu. Aku mencintaimu apapun yang akan kau jawab nantinya. Itu tugasku.

Aku juga baru sadar, bahwa ketika kau membuat aku merasa lelah karena sikapmu. Nyatanya dalam hatimu, kau ingin melihat aku tidak menyerah padamu, kau ingin aku tetap pada keyakinan cintaku. Kau ingin aku tetap berada disampingmu, menuntunmu tetap berada dalam track. Bodohnya, aku baru sadar.

Oh Wahai...
Maafkan aku atas apa yang aku lakukan yang membuat perasaanmu menjadi tidak enak. Dan juga sok tahu ku tentang apa yang aku tulis ini. Aku hanya menerka-nerka apa yang ingin disampaikan Tuhan melaluimu. Dan aku tahu bisa saja ini semua salah, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa kebenaran terselip didalamnya. :)

Tapi yang jelas, aku tegaskan bahwa aku mencintaimu, tidak peduli kau membalas cintaku atau tidak. Cinta itu harus memiliki dan aku sudah memiliki. Memiliki cinta untukmu. Selamanya akan begitu sampai Tuhan berkata "Ayo, saatnya kalian hidup bersama sebagai sebuah keluarga".

Dibawah terik mentari bersama lautan
Yang Mengaku Kekasihmu. :*