Jumat, 20 Maret 2015

Petunjuk

Bismillahirrohmanirrohim...


Sudah berkali-kali aku jatuh tersungkur berkalang sajadah di sepertiga malam, sekedar bertanya pada Tuhan Yang Maha Penyayang akan "untuk siapa kerinduanku ini?". Dan berkali-kali pula wajahmu datang ke mimpiku dengan berbagai cara. Pun dengan berbagai cara pula aku menyangkalnya, apakah benar dirimu?

Aku berjalan setiap pagi memenuhi panggilan-panggilan Kasih dari para penyeru. setiap seretan sandal jepitku terdengar isak tangis penyesalan. Penyesalan akan petunjuk dari Yang Maha Penyayang, apakah benar dirimu?

Ternyata aku sadar aku tak sanggup menahan ini sendirian. Ingin aku berkata langsung pada sosok mu yang teguh bak keperkasaan para Sparta dari Yunani, bahwa aku selalu bermimpi tentang dirimu. Bahwa Tuhan berbicara padaku, pria yang terombang-ambing karena rindu Nya. Tapi selalu aku termangu, lidahku kelu! akhirnya kusampaikan pesan-pesan itu melalui jari-jariku yang coba menuliskan petunjuk dari Tuhan ini. Tapi? Apa yang kulakukan, aku malah mengganggu waktumu. Ah, dasar bodoh. Tak bisa lagi aku peka terhadap dirimu.

Kugunakan cara lainnya untuk sampaikan hal itu, aku coba berbicara langsung dengan gemetar, kucoba tatap dirimu dengan penuh harapan, tapi lihat! lagi-lagi yang kulakukan adalah kebuntuan. Oh wahai, yang memiliki petunjuk dengan cara apalagi kusampaikan? Lalu Sang Maha Sayang berkata "Sampaikan lah melalui percakapanku"

Kubuka kitab suci yang penuh debu, yang sudah lama sekali tidak aku buka. Kusiapkan bantal untuk menopangnya, kubuka lembar-lembarnya, mencari-cari tanda yang sudah aku buat dulu. Kumulai dengan memohon perlindungan dan memuji kepada Kasih Sayang Nya yang Meraja. Kusampaikan setiap bait-bait cinta yang disampaikan Tuhan lalu kukirim padamu. Tapi? lagi-lagi aku merusaknya! aku mengganggu hatimu.



Aku tersungkur lagi dengan otot paha yang luka, kutekuk kakiku dengan berbagai keluhan. Kurasakan dingin menyerang pahaku ketika aku duduk tasyahud. Oh ini yang namanya sakit, tidak luka diluar tapi sakitnya luar biasa di dalam. Lalu kupanjatkan puji-pujian bagi Dzat Yang Menciptakan Cinta dan memberikannya pada setiap makhluk. Aku bertanya lagi, "Tuhan, apakah benar ini petunjuk dari Mu? atau hanya khayalanku? Tolong aku Tuhan, sepertinya hatinya sudah beku. Bantu aku sampaikan..."

Tidak ada jawaban. Tidak ada mimpi. Tidak ada apa-apa, Kekasih.

Yang kudapat malah rasa yang campur aduk, keinginan, kebutuhan, kerinduan, penyesalan, ketakutan, keyakinan, kepercayaan, keraguan dan lain sebagainya. Aku tak mampu bertahan, akhirnya kutuliskan pesan-pesan itu kembali dalam tulisan-tulisan, ketikan-ketikan, berharap kau membaca dengan hati yang tenang, jauh dari keegoan. Bahwa...



Aku bermimpi bertemu denganmu saat kita umroh, lalu kita pergi melihat bunga sakura yang sedang bermekaran di negeri matahari terbit. Ya, Jepang! Lalu kita menyelam bersama di raja ampat, lalu terbang ke titik awal Indonesia, Sabang. Ohh, kasih, tahukan kau bahwa dalam mimpiku kita berjabat tangan dengan Xanana Gusmao, aku tak tahu kenapa dia hidup dalam mimpiku dan menerima kita di Istananya, di Timor Timur. Lalu aku memfoto dirimu yang sedang bergaya berlatar pemandangan malam Wat Khanon Temple. Lalu sebelum aku terbangun aku melihatmu tersenyum manis sambil menari di tembok besar china.

Kasih, bukan ku pergi darimu, tapi kau yang "menyumbangkanku" dan menjauhiku. Maaf, aku salah. Ya, aku yang pergi darimu. Tapi kini bukan aku datang untuk berlari dari kenyataan bahwa aku ditipu "lagi" oleh cinta. Hahaha. Aku tau kau tak mau tau. Tapi apa yang bisa kulakukan? Memaksamu untuk mendengarkan ceritaku? Lalu memaksamu untuk memahaminya, aku tak sejahat itu. Aku hanya ingin sampaikan petunjuk ini, mungkinkah kau punya jawabannya? Kenapa kau yang datang ke mimpiku seolah itu jawaban dari Tuhan ketika ku minta tulang rusukku datang?

Oh kasih, maafkan jika kehadiranku "kembali" membuat mu terganggu. Bukan maksudku untuk mempermainkanmu, tapi aku yang dipermainkan perasaanku. Sudah saatnya kah aku menyerah pada keangkuhanmu? Atau kau ingin melihatku berpeluh darah sambil tersenyum padamu dalam dahsyatnya lautan cinta? Kasih, tak mampu lagi ku tatap wajahmu dan mengajakmu untuk mengarungi kehidupan bersama di bahteraku. Aku tak sampai hati. Namun kuharap, jangan biarkan kebekuan memisahkan rasa kita. Jika bukan keinginan hidup bersama, biarkan tumbuh rasa kasih dari persaudaraan antara kita.

Biarkan aku tetap mencintaimu dalam keheningan, ini berat, kekasih, biar aku yang menanggungnya.

di medan pertempuran
20/03/2015