Selasa, 16 Desember 2014

Ketika

Bismilaahirrohmaanirroohiim…
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ketika didefinisikan :
ke.ti.ka[n] waktu yg sangat singkat atau yg tertentu; saat: menantikan — yg baik; rumah yg terbakar itu habis — itu juga; (2) n waktu atau saat yg bertalian dng nasib dsb (dl perhitungan, primbon, atau tenung); (3) p kata penghubung untuk menandai waktu yg bersamaan; tatkala; pd waktu (yg bersamaan): — kakak dilahirkan, ayah sedang bertugas di kota



Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/ketika#ixzz2jxSYWl7U
Pernahkah kita, manusia, berpikir bahwa kejadian-kejadian dalam hidup kita ini adalah ‘ketika’. Sangat singkat, penuh penantian, menunggu nasib, bersamaan dan lain-lain yang merujuk pada definisi ketika menurut Kamus tersebut. Pernahkah?

Mari kita merenung sejenak, meluruskan kaki dan tubuh di atas kasur sebentar saja. Sampai anda merasa rileks. Jika sudah rileks, silakan lanjutkan membaca tulisan ini. Hehe. Padahal nyantai nya udah daritadi ya? Oke kita lanjutkan.
Dari kata ketika ini lah awal mula kita mengetahui waktu. Ketika kita belum dilahirkan, ayah dan ibu kita tidak pernah merencanakan memiliki anak seperti kita. Ketika mereka belum menikah, mereka belum merencanakan akan bertemu dan saling suka. Inilah ketika. Bagi saya, ketika ini adalah tentang awal waktu yang sesungguhnya kita pun tidak dapat mengetahui kapan. Karena dengan ketika banyak hal dapat terjadi.


Ketika ini bukan hanya sekedar kata yang dapat kita ucapkan dan tahu bahwa ia adalah awal waktu. Ketika adalah tentang keinginan Tuhan. Ketika Tuhan menciptakan manusia Tuhan sudah berfirman bahwa Ia, Tuhan, menciptakan kita, manusia, untuk beribadah pada Nya. (Q.S. Adz-Dzariyat : 56) Bagi yang muslim silakan cek ayat tersebut. Bagi saudara saya yang non muslim, tetaplah membaca, jangan kira ini adalah tulisan khusus muslim. Tidak. Ini saya lakukan berdasarkan sumber yang saya yakini. Mohon maaf jika menyakiti hati saudara.
Ketika itu Tuhan menakdirkan kita bahwa kita adalah penyembah. Siapa yang disembah? ya Tuhan. Pencipta kita. Tapi, ketika kita sudah terlahir ke dunia apa yang kita lakukan? Membangkang? Iya. Itu saya banget. Sering sekali saya membangkang kepada Tuhan. Lalu apalagi? Banyak ya, sampai tidak sanggup menyebutkan hal-hal itu. Malu sama Tuhan yang ketika itu mengatakan kepada malaikat bahwa kita, manusia, akan dijadikan Khalifah atau pemimpin di muka bumi.
Ketika itu juga, saat yang bersamaan dengan pembangkangan kita terhadap perintah Tuhan. Ampunan Nya turun dengan deras. Sebesar apapun dosa kita, sebesar itu pula ampunan Tuhan. Tapi lagi, lagi. Ketika itu pula kita tidak sadar!
Duh, Gusti. Terlalu banyak kami lalai sehingga kami tidak sadar akan ampunan Mu yang turun ketika kami berbuat dosa. Wahai Sang Pemilik ketika, apalah arti ini semua ketika kami tidak dapat memahami semua pengajaran Mu. Ketika kami selalu lupa, Ketika itu. Ketika kami menangis, ketika kami lesu, ketika kami payah baru kami ingat kepada Mu. Apakah masih pantas kami mengingat ketika itu? Mengingat semua anugerah yang hadir ketika, ketika dan ketika.
Wahai Pemilik Ketika.
Jakarta, 16 Desember 2014
di Pembaringan