Senin, 15 Desember 2014

Institusi Preman

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM...

Tahun 2003 adalah awal saya masuk SLTP, meski sebenarnya saya lebih ingin menyebut SMP. Masa itu adalah masa-masa indah saya ketika beranjak remaja, karena saat itu adalah saat dimana saya mengenal cinta-cintaan. Haha
Tapi hari ini dengan segenap gemuruh cinta dalam hati saya membuka kembali ingatan saya ketika saya awal masuk SMP sampai saya lulus SMK. Saya ingin mengingat-ingat siapa yang pernah saya injak tangannya, tendang kakinya, menggampar wajahnya, memakinya dan lain sebagainya yang bersifat tidak manusiawi.
Tanggal 27 Februari 2014 saya update status di akun facebook saya yang saya tulis jadi beberapa kali update status, begini :
Matematika adl tidak pasti. Ia (matematika) hny ttg kesepakatan. 1+1 tdk sm dgn 2 jika kita berbicara ttg bilangan biner.
Matematikamu agak anu kayaknya. Kita tdk butuh kekerasan, pukulan, makian dan sejenisnya. Krn kita sdg tdk mencetak seorg preman.
Jd secara matematika, tdk bisa diterima kekerasan, pukulan dan makian. Kecuali kau hny ingin mencetak seorg yg juga pandai memukul dan memaki.
Camkan lah wahai pelaku pendidikan. Kita dituntut mencetak generasi bangsa yg mampu bersaing dlm bidang ilmu, bukan kekerasan.
Cukup 2 institusi saja yg rela membunuh nyawa demi sebuah ‘kesenioran’.
Saya jadi terhenyak ketika saya menulis status terakhir. Dibenak saya, tahun 2003 adalah saat dimana STPDN tersiar namanya karena kematian Praja bernama Wahyu Hidayat. Awalnya institusi dalam negeri tersebut menyebutkan bahwa kematian Kak Wahyu (semoga arwahnya diberikan tempat yang indah) karena sakit.

Lalu tiga tahun kemudian, setelah terjadi perubahan nama menjadi IPDN, giliran Praja dari Sulawesi Utara bernama Cliff Muntu yang meregang nyawa karena kesenioran, senioritas atau apalah yang mereka sebut. ‘Pembinaan’ tersebut bukannya membawa kebaikan malah membuat nyawa hilang.  Saat itu saya belum begitu paham tentang kesenioran, yang jelas saya merasakan ditendang, dimaki, dipukul wajahnya dan hebatnya saya juga pernah melakukan itu (semoga Allah mengampuni saya) terhadap junior-junior saya di Paskibra.
Keyakinan saya semakin kuat untuk merubah cara mengajar saya yang ‘senioritas’ menjadi ajaran yang lembut tapi tegas ketika melihat berita ospek maut yang merenggut nyawa mahasiswa ITN Malang bernama Fikri Dolasmantya Surya. Fikri diduga tewas karena tindak kekerasan berasaskan kesenioran yang dilakukan ketika ospek di ITN Malang. Aksi tersebut membuat saya mengingat-ingat kembali apa yang pernah saya lakukan terhadap junior-junior saya. Mulai dari memberi minum 1 botol air mineral untuk 1 pleton saja, memberi sedikit waktu istirahat, menyuruh push up meski saya tahu bahwa junior saya kelelahan.
Saya ingin sekali mengulang itu semua, tapi apa daya, penyesalan memang selalu datang di akhir. Ketika kita mulai menyadari tindakan kita dahulu tidak membawa manfaat sama sekali, dari situ awal kembalinya kita pada kebaikan. Saya ingin mendatangi mereka satu persatu dan minta untuk membalas perbuatan saya dahulu agar saya mendapatkan ridho dan maaf atas segala kesalahan saya. Agar saya halal nanti di barzakh. Ketika ditanya malaikat saya mampu menjawab bahwa saya sudah meminta maaf kepada Cucu Adam yang pernah terluka batin dan jasadnya akibat saya.
Saya katakan pada Robby dan Ayub sahabat saya, bahwa kita (dipaskibra) tidak mencetak seorang preman, kita mencetak orang-orang yang mampu bersaing dan bertahan dalam kehidupan masyarakat dan mampu memberikan ide, waktu dan tenaga nya bagi kehidupan sosial. Ingat! kita tidak mencetak seorang preman.
Saya tujukan tulisan ini, bagi saudara-saudara saya baik lelaki dan perempuan yang ada di ekskul atau bukan, untuk guru, untuk kakak (jangan lagi gunakan kata senior) dan semuanya yang saat ini memiliki anak didik atau adik (jangan lagi gunakan kata junior) agar mengajar dengan cara yang baik. Agar kita bangga dihadapan Tuhan kelak bahwa ilmu kita bermanfaat bagi orang banyak bukan untuk menciptakan generasi PREMAN!
15 Desember 2014, Medan Perang di Waktu sore.
ditulis oleh Alfaqir Syaif Jakarta